20 TAHUN ASCOATINDO
Jakarta, 26–27 Agustus 2026 | Menara Peninsula Hotel

Pengurus APCI bersama pelaku industri dalam rangkaian peringatan 20 tahun ASCOATINDO
JAKARTA — Peringatan 20 tahun Asosiasi Coating Indonesia (ASCOATINDO) bukan hanya menjadi perayaan perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan tentang arah industri coating Indonesia ke depan. Dalam Conference/Seminar & Exhibition bertema “20 Years of Excellence in Corrosion Prevention, Coating Innovation Services Towards Reliability and Sustainability” pada 26–27 Agustus 2026 di Menara Peninsula Hotel, Jakarta Barat, Ketua Umum Asosiasi Produsen Cat Indonesia (APCI), Kris Rianto Adidarma, menyampaikan pidato yang menempatkan kompetensi manusia dan kolaborasi antara produsen cat dengan profesional coating sebagai salah satu kunci kemajuan industri.
Dua puluh tahun ASCOATINDO: perjalanan membangun manusia

Kris Rianto Adidarma menyampaikan pidato pada pembukaan acara remarks di hadapan peserta dan pemangku kepentingan industri
Kris membuka pidatonya dengan menyampaikan rasa syukur karena dapat hadir bersama-sama merayakan sebuah tonggak penting: ulang tahun ke-20 ASCOATINDO. Ia mengingatkan bahwa dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Sejak didirikan pada 1 Agustus 2006, ASCOATINDO berkembang menjadi rumah bagi para profesional coating—mulai dari inspector, supervisor, engineer, aplikator, hingga tenaga profesional yang bekerja di lapangan, pabrik, anjungan lepas pantai, jembatan, kilang, dan berbagai proyek di Indonesia.
Menurut Kris, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ASCOATINDO bukan sekadar organisasi profesi, tetapi bagian dari infrastruktur sumber daya manusia industri coating Indonesia. Kompetensi para profesional di bidang ini pada akhirnya berhubungan langsung dengan kemampuan Indonesia menjaga aset, infrastruktur, dan investasi dari ancaman korosi.

APCI dan ASCOATINDO: dua sisi dari satu mata uang
Salah satu bagian paling penting dari pidato Kris adalah penjelasannya mengenai hubungan antara APCI dan ASCOATINDO. Ia menggambarkan cat dan aplikasi coating sebagai dua sisi dari satu mata uang. Produsen cat membuat produk, tetapi produk terbaik sekalipun tidak akan menghasilkan manfaat maksimal tanpa tangan-tangan terampil yang mengaplikasikannya dengan benar.
Kris memberikan gambaran yang sangat praktis: cat anti-korosi berkualitas tinggi dapat gagal apabila persiapan permukaan salah, ketebalan lapisan tidak sesuai, atau kondisi lingkungan ketika aplikasi tidak tepat. Dalam kondisi seperti itu, kegagalan di lapangan bahkan sering kali justru dikaitkan dengan produknya. Karena itu, menurutnya, keberhasilan coating merupakan tanggung jawab yang membutuhkan keterhubungan antara teknologi produk dan kompetensi aplikasi.
Di sinilah Kris melihat posisi strategis ASCOATINDO. Sertifikasi kompetensi, pelatihan, uji kompetensi, dan resertifikasi yang dilakukan ASCOATINDO tidak hanya penting bagi para profesional coating, tetapi juga penting bagi produsen cat. Setiap inspector yang tersertifikasi dan setiap aplikator yang kompeten menjadi bagian dari penjaga mutu produk di lapangan.
Dengan kata lain, kompetensi profesional coating menjadi jembatan antara apa yang diformulasikan di laboratorium dan apa yang benar-benar terjadi di lapangan. Ketika aplikasi dilakukan dengan benar, produk dapat memberikan perlindungan sebagaimana yang dijanjikan—membantu menjaga aset negara, infrastruktur publik, dan investasi swasta dari kerugian akibat korosi.
Korosi, kualitas, dan nilai ekonomi yang harus dijaga
Kris juga menempatkan isu coating dalam konteks ekonomi yang lebih luas. Korosi bukan sekadar persoalan teknis permukaan logam. Jika perlindungan tidak dilakukan dengan benar, kerusakan dapat berdampak pada umur aset, biaya pemeliharaan, keandalan operasi, dan nilai ekonomi. Karena itu, peningkatan kualitas pekerjaan coating menurutnya merupakan bagian dari upaya menjaga aset dan efisiensi ekonomi bangsa.
Pesan ini memperluas cara pandang terhadap profesi coating. Seorang aplikator atau inspector bukan hanya menyelesaikan pekerjaan teknis, tetapi ikut menentukan apakah sebuah sistem perlindungan mampu bekerja dalam jangka panjang.
Pembahasan mengenai korosi juga menjadi salah satu benang merah penting dalam berbagai sesi selama rangkaian acara ASCOATINDO. Sejumlah pembicara menyoroti bahwa korosi masih sering dipandang sebagai persoalan teknis yang dapat ditangani belakangan, padahal ketika tidak ditangani dengan tepat dan sejak awal, dampaknya dapat sangat merugikan perusahaan. Kerusakan aset, meningkatnya biaya perawatan dan perbaikan, terganggunya operasional, hingga berkurangnya umur layanan aset merupakan konsekuensi yang perlu diperhitungkan secara serius.
Karena itu, persoalan korosi seharusnya tidak hanya dibicarakan ketika kerusakan sudah terjadi. Pencegahan, pemahaman mekanisme korosi, pemilihan sistem proteksi, inspeksi, serta kemampuan melakukan problem solving perlu menjadi bagian dari kompetensi dasar para engineer dan tenaga profesional yang bekerja di sektor-sektor yang memiliki risiko korosi tinggi.
Di sisi lain, kebutuhan tersebut masih berhadapan dengan tantangan ketersediaan sumber daya manusia. Salah satu hal yang mengemuka dalam diskusi adalah bahwa korosi di lingkungan pendidikan tinggi masih kerap ditempatkan sebagai mata kuliah pilihan. Ke depan, ada pandangan kuat bahwa korosi sebaiknya mendapatkan tempat sebagai mata kuliah yang lebih fundamental dan dipelajari secara lebih mendalam, terutama bagi bidang-bidang teknik yang berhubungan langsung dengan material, konstruksi, maintenance, energi, manufaktur, dan infrastruktur.
Penguatan pendidikan korosi menjadi penting karena industri masih membutuhkan lebih banyak SDM yang benar-benar memahami bagaimana mencegah, mendiagnosis, dan menyelesaikan persoalan korosi di lapangan. Kebutuhannya bukan hanya orang yang mampu mengenali adanya karat atau kerusakan, tetapi tenaga profesional yang dapat memahami akar masalah, menentukan metode penanganan yang tepat, memilih sistem coating yang sesuai, serta memastikan solusi tersebut memberikan perlindungan dalam jangka panjang.
Pesan tersebut pada akhirnya kembali pada tema besar yang disampaikan Ketua Umum APCI, Kris Rianto Adidarma: membangun industri coating berarti juga membangun manusianya. Produk, teknologi, dan sistem proteksi yang semakin maju harus berjalan beriringan dengan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan pengalaman lapangan. Dengan SDM yang semakin kuat, Indonesia akan lebih siap menghadapi persoalan korosi dan menjaga aset-aset strategisnya.
Industri berada di persimpangan peluang dan tantangan
Memasuki bagian berikutnya, Kris menggambarkan industri cat dan aplikasi coating Indonesia sedang berada di persimpangan yang menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Dari sisi regulasi, ia menyampaikan bahwa industri cat memperoleh pengakuan yang lebih jelas melalui KBLI 2025, yang menurutnya memberikan klasifikasi tersendiri bagi industri cat.
Bagi Kris, perkembangan tersebut penting karena menunjukkan bahwa industri cat tidak lagi dipandang hanya sebagai bagian kecil dari industri kimia, melainkan sebagai sektor yang memiliki posisi strategis dan kebutuhan pengembangan tersendiri. Ia juga menyinggung kebijakan TKDN yang terus mendorong kandungan lokal.
Kebijakan tersebut, menurut Kris, memiliki keterkaitan kuat dengan semangat ASCOATINDO mengenai local experts. Kemandirian tidak cukup hanya diwujudkan melalui produk yang dibuat di Indonesia. Indonesia juga perlu memiliki ahli-ahli Indonesia yang mampu mengembangkan, mengaplikasikan, menginspeksi, dan menjaga kualitas teknologi coating.
Paint School: kolaborasi konkret antara produsen dan profesional
Salah satu bagian pidato yang secara khusus menjadi perhatian APCI adalah pengembangan sumber daya manusia melalui Paint School. Kris menyampaikan bahwa sekitar dua tahun sebelumnya APCI mendirikan Paint School karena keyakinan bahwa masa depan industri sangat ditentukan oleh manusianya.
Dalam perjalanan tersebut, APCI tidak berjalan sendiri. ASCOATINDO ikut memberikan dukungan, termasuk dengan menghadirkan trainer terbaiknya untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Bagi Kris, dukungan tersebut merupakan contoh nyata bahwa hubungan produsen dan profesional coating dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kerja sama bisnis.
Ia berharap dukungan keluarga besar ASCOATINDO terhadap Paint School dapat terus berlanjut dan berkembang, baik dalam bentuk tenaga pelatih, materi pembelajaran, peralatan, maupun dukungan pendanaan. Tujuannya jelas: semakin banyak tenaga ahli cat dan coating Indonesia yang kompeten, profesional, dan membanggakan.


Momen apresiasi yang mempererat hubungan antarpemangku kepentingan
Membangun manusia sama pentingnya dengan membangun pabrik
Dari seluruh pidato tersebut, salah satu benang merah yang paling kuat adalah pandangan Kris bahwa pembangunan industri tidak dapat hanya diukur dari kapasitas produksi, investasi teknologi, atau jumlah fasilitas. Manusia yang menguasai teknologi dan mampu menjalankannya dengan benar merupakan fondasi yang sama pentingnya.
Ia menekankan bahwa mesin dapat dibeli dan teknologi dapat dilisensikan, tetapi kompetensi harus ditumbuhkan, dilatih, diuji, dan dijaga. Karena itulah sertifikasi, pelatihan, pengalaman lapangan, dan pengembangan berkelanjutan menjadi bagian penting dari perjalanan industri coating.
Menurut Kris, hasil dari proses tersebut sudah mulai terlihat. ASCOATINDO telah menghasilkan ribuan tenaga ahli coating Indonesia yang bekerja bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga pada proyek-proyek regional dan internasional. Hal ini menjadi indikator bahwa kompetensi lokal dapat berkembang menjadi daya saing global.
Apresiasi untuk 20 tahun dedikasi ASCOATINDO
Menjelang penutup, Kris atas nama seluruh anggota APCI menyampaikan penghargaan kepada para pendiri ASCOATINDO, para pengurus dari masa ke masa, dan seluruh anggota yang telah menjaga dedikasi serta konsistensi organisasi selama dua dekade.
Ia memandang dua puluh tahun ASCOATINDO sebagai perjalanan yang telah menghasilkan “buah” nyata: sumber daya manusia coating Indonesia yang kompeten, beretika, dan berdaya saing global. Karena itu, ulang tahun ke-20 diharapkan menjadi awal dari perjalanan berikutnya yang semakin kokoh, dipercaya, dan membanggakan Indonesia.
Apresiasi yang diwujudkan dalam kebersamaan
Semangat saling menghargai tersebut juga terlihat dalam rangkaian acara melalui pemberian apresiasi kepada pihak-pihak yang berkontribusi terhadap perkembangan ekosistem coating. APCI menjadi salah satu pihak yang menerima apresiasi dari ASCOATINDO.
Bagi APCI, momen tersebut menjadi simbol bahwa hubungan kedua organisasi telah berkembang dari sekadar hubungan antarasosiasi menjadi kerja sama yang saling menguatkan—produsen membutuhkan profesional yang kompeten, sementara profesional coating membutuhkan industri yang terus berinovasi dan mendukung pengembangan kompetensi.
Booth APCI: ruang kolaborasi yang diberikan ASCOATINDO

Booth APCI yang disediakan ASCOATINDO dalam area exhibition sebagai ruang informasi dan networking
Semangat kebersamaan itu juga hadir di area exhibition. ASCOATINDO memberikan ruang booth khusus bagi APCI sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun. Bagi APCI, booth ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan organisasi, sejarah, visi dan misi, serta berbagai aktivitas asosiasi kepada peserta dan pengunjung.
Lebih dari sekadar ruang informasi, booth tersebut menjadi titik temu untuk networking dan komunikasi langsung dengan pelaku industri. Kehadiran APCI di exhibition memperlihatkan bahwa kolaborasi antarasosiasi dapat diwujudkan secara konkret—di panggung seminar, dalam diskusi teknis, dalam sesi penghargaan, maupun melalui ruang bersama untuk membangun jejaring.
Dua hari forum teknis: dari Mining hingga Marine Transportation
Peringatan 20 tahun ASCOATINDO juga dirancang sebagai forum pengetahuan. Pada 26 Agustus, setelah rangkaian pembukaan, agenda berlanjut dengan technical session mengenai Mining Industry dan Oil & Gas Industry, termasuk panel discussion. Pada 27 Agustus, pembahasan berlanjut pada Power Industry, Petrochemical Industry, Marine Transportation, dan Mining Industry.
Ragam sektor tersebut memperlihatkan betapa luasnya kebutuhan corrosion prevention dan coating. Setiap sektor memiliki karakter aset, lingkungan operasi, risiko korosi, serta tuntutan keandalan yang berbeda. Karena itu, pertukaran pengalaman antara pengguna, produsen, aplikator, inspector, akademisi, dan penyedia teknologi menjadi penting untuk meningkatkan kualitas keputusan teknis.
Dalam konteks ini, forum ASCOATINDO menjadi ruang yang melengkapi pesan Kris: teknologi dan produk harus berjalan bersama kompetensi, standar kerja, serta pengalaman lapangan.

Foto bersama pengurus, pembicara, sponsor, dan peserta—gambaran kebersamaan ekosistem coating Indonesia
Pesan penutup Kris: bangga menjadi ahli Indonesia
Pidato Kris kemudian ditutup dengan pesan yang sangat kuat mengenai kebanggaan menjadi bagian dari industri nasional. Ia mengajak ASCOATINDO untuk terus mencintai negeri, peduli pada bangsa, dan bangga menjadi ahli-ahli lokal.
Bagi APCI, pesan tersebut bukan sekadar ucapan ulang tahun. Ia merupakan ajakan agar produsen dan profesional coating terus berjalan bersama: mengembangkan produk, meningkatkan kompetensi, memperkuat pendidikan dan pelatihan, menjaga mutu aplikasi, serta membangun kepercayaan terhadap kemampuan tenaga ahli Indonesia.

Dua puluh tahun ASCOATINDO pada akhirnya bukan hanya cerita tentang usia sebuah organisasi. Ini adalah cerita tentang bagaimana kompetensi dibangun, profesi dikembangkan, dan kolaborasi dijadikan kekuatan untuk menjaga aset Indonesia. Bagi APCI, sinergi dengan ASCOATINDO merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut—dan sekaligus investasi untuk generasi industri coating Indonesia berikutnya.
DIRGAHAYU ASCOATINDO KE-20
Maju bersama, membangun negeri
Artikel disusun berdasarkan naskah pidato Ketua Umum APCI dan materi resmi acara ASCOATINDO.